Pasar Malam di Kepala

Di Pertemuan Selanjutnya

Jumat, 24 Juni 2016
Ada banyak hal yang mengubah hidup, atau setidaknya mengubah diri saya belakangan. Saya berharap kita akan lebih banyak bercerita--kalau memang akan ada pertemuan selanjutnya. Bila perjumpaan itu benar akan ada, saya harap kita tidak lagi kikuk dan bisa bicara dengan lebih lepas. Kamu akan tahu kenapa saya makin kurus, makin hitam, makin suka kopi, tetapi makin suka tidur juga. Kamu akan tahu kenapa saya tidak lagi terlalu suka hujan, tidak lagi terlalu suka kemana-mana dengan teman, tidak lagi terlalu suka dengan apapun yang kalau ditulis kesannya jadi sendu.

Saya juga berharap akan punya lebih banyak waktu mendengarkanmu bercerita. Mengetahui apa-apa yang telah berubah darimu, dari hidupmu, dari masa lalumu yang tak pernah benar-benar saya pahami itu. Beberapa ingatan tetap ada di tempatnya meski kita telah pergi jauh, termasuk sesuatu di kepalamu, saya tahu itu. Tak apa untuk bercerita satu dua hal menyedihkan, saya sudah sedikit lebih pandai melucu sekarang.

Tapi nanti, kan? sekarang buka sek hmmm.

Muara

Rabu, 23 September 2015
          Saya ingin sekali menyayangi tanpa menyulitkanmu. Tetapi itu barangkali membingungkan Tuhan. Kerap saya minta agar diberi kesempatan lagi, agar setidaknya yang lalu-lalu bisa saya perbaiki. Saya minta kesempatan, agar kalaupun tidak dibersamakan, setidaknya saya bukan menjadi salah satu yang buruk di ingatanmu. Saya mengusahakan banyak hal, agar ada celah yang bisa dilewati. Tetapi bukankah itu sama saja saya sedang meminta diberi jalan untuk dibersamakan? Dijadikan yang menyenangkan di kepalamu?

          Di lain waktu saya hanya meminta dileburkan perasaannya. Kau tahu? Itu saat-saat di mana barangkali saya sedang merasa buruk. Langit yang katanya tak berbatas pun, tak akan bisa dijangkau dengan hanya tangan kosong, bukan? Maka sebagai manusia, bagiku langit adalah batasnya. Dan apa kau ingat saya pernah menyebutmu langit sebab sepasang mata milikmu semenenangkan biru? Maka anggaplah terhadapmu, saya sedang berada di titik batasan saya sebagai manusia bertangan kosong.

          Saya punya banyak lebam yang jika bersama, kau akan kerepotan menyembuhkannya. Saya terlalu rumit dalam banyak hal, yang memahami dan merapikannya, akan melelahkanmu. Saya lahir dengan fisik dan hati yang rapuh, mudah sakit dan mudah menangis, lagi-lagi, itu hanya akan melelahkan. Dan saya, ingin memberimu sayang yang baik, yang tidak melelahkan. Di situlah saya membuat Tuhan bingung, sebab denganmu saya berharap dijauhkan.

           Atas muara yang akan tertuju nanti, saya serahkan pada Ia yang menciptakan semesta. Kini, selamat menjadi yang bahagia, selamat menemukan bahagia-bahagia lainnya. Beri saya langkah yang mudah, untuk di hati menjadikanmu sesuatu yang lalu. Bukan pergi apalagi bersembunyi. Saya hanya bergeser ke lain sisi, agar memandang punggungmu tak lagi seberharap dulu.

Kesempatan

Beberapa kali kesempatan terlewat karena kebodohan sendiri. beberapa hal yang barangkali bisa jadi baik, berakhir buruk, atau setidaknya berakhir gitu-gitu aja, karena terlalu penakut. Ampun, Tuhan. Ampuni dan jangan kapok memberi jalan. Saya sadar hidup memang nggak bisa kalo pengennya mulus-mulus aja. Pasti pakai kesandung, pakai lelah, malah mungkin harus pakai tersesat dulu untuk sampai.  Dan, saya tidak seberani itu berjalan terlalu jauh untuk nantinya menghadapi ketakutak-ketakutan itu sendirian.

Allah yang baik, minta kesempatan lagi, boleh?