Kita (akan) baik-baik saja | Pasar Malam di Kepala

Kita (akan) baik-baik saja

Sabtu, 15 Desember 2012
Dua tahun lebih, ternyata kita sudah selama itu, dan katamu kita akan baik-baik saja. Ada kalanya kita sama-sama tidak sadar bahwa kita menjauh. seperti ada jeda dalam apa yang kita jalani. dulu, aku pernah merasa kita tak lagi cocok.

"kamu sepertinya mulai tidak peduli, jadi aku berpikir untuk melepas. Bagaimana?"

sengaja aku tanyakan itu dalam perbincangan kita. kamu, diam, entah berpikir apa aku tidak bisa menebaknya, tapi nampak sekali kalau kamu kebingungan menjawab.

"kamu tidak perlu melepas apapun, aku masih nyaman hatiku kamu genggam" jawabmu.

ah, aku luluh. ya, kamu memang selalu bisa membuatku luluh. baiklah, sebenarnya aku juga tidak tau akan seperti apa rasanya kalau aku benar-benar harus melepasmu, mungkin gantian aku yang akan menitipkan rindu disela-sela jarimu. jadi aku menyerah, kita kembali bersama dan aku yakin, kita akan baik-baik saja.

Suatu ketika, aku mulai ragu lagi atas apa yang kita jalani. 

"Sepertinya kita harus benar-benar tamat." ucapku berat.

ya, kamu tidak akan tau betapa mati-matian aku mengumpulkan kekuatan untuk mengatakannya. tapi bagaimanapun, aku wanita dan aku butuh diberi kejelasan. 

 "jangan, aku tak mau kasih kita hanya menjadi kisah" jawabmu.

ah, kamu hanya butuh beberapa kalimat untuk membuatku meleburkan kekuatan yang lama aku kumpulkan itu. aku kembali merapuh mendengarnya. ya, sebenarnya aku juga belum sepenuhnya rela kalau kita harus tamat, kamu itu ujung kisahku, jadi aku mau melanjutkannya lagi. aku mau jadi tokoh yang kamu beri perhatian penuh, yang menua bersamamu kelak, menertawakan uban-uban yang mulai tumbuh, dan jadi tokoh yang kamu bahagiakan sampai kisahnya tamat. indah sekali, dan meskipun telah sering melalui yang menyakitkan seperti ini, aku yakin kita akan baik-baik saja.

sampai saat ketika kita kembali menjauh dan keyakinanku itu mulai terkikis, aku benar-benar merasa kita terlalu memaksakan. kali ini aku benar-benar meminta kejelasan. aku memberikanmu sebuah buku kecil yang sudah ku selipkan surat didalamnya. ya, aku sengaja menanyakannya lewat tulisan saja, aku tak kuat bicara langsung denganmu.

"Kita sering membicarakan apa saja, termasuk harapan-harapan bila suatu saat kita benar-benar bersama dalam suatu kehidupan yang bahagia, tapi sayang, kita lupa membicarakan tentang bagaimana kalau nanti diantara kita sudah tak ada lagi cinta?"

kamu mungkin tidak tahu, ketika menuliskannya aku merasa dadaku sesak, ada nyeri didalamya. tapi kamu memang tidak perlu tahu, cukup baca itu dan semuanya akan jelas kalau kamu mau jujur menjawab.
tak lama, kamu mengajakku berbincang, tapi kamu tidak seperti biasanya waktu itu. mungkin suratku membuat kamu benar-benar bingung, maaf, tapi aku juga benar-benar butuh kejelasan.

"bagaimana kamu bisa berpikiran kalau masing-masing diantara kita akan berhenti mencinta?"

kamu memulai pembicaraan. aku mulai merasa sedikit sesak lagi, ah, tapi tak apa.

"jangan terlalu memaksakan, ini bukan hanya soal hubungan, tapi ini tentang perasaan didalamya." jawabku agak terisak.

 ya, mataku mulai merasakan ada air hangat yang akan keluar waktu itu. kemudian kamu diam, aku pun diam, ada hening yang begitu panjang disana.

"Dengar, cinta memang kadang begitu, kita bia menggebu-gebu, tapi ada kalanya kita merasa jenuh. dan saat ini, mungkin kita sedang ada di titk bagian jenuhnya. tapi seperti biasa, kita akan bisa melalulinya, kamu akan kembali manis seperti diawal, dan aku akan kembali dengan perhatianku yang penuh untukmu. percayalah, kita akan baik-baik saja."
 
jawabanmu itu, ya, jawabanmu itu, kamu pernah merasa benar-benar kehabisan kata ditengah sesak yang kamu rasakan, sampai bernafaspun rasanya kamu sulit? ini, ini aku sedang merasakannya. karna kamu menjawab dengan begitu sempurna. ya, aku luluh, lagi-lagi aku luluh atasmu. aku percaya, sangat.
sesaat bayangan tentang kita yang sudah lewat berkelebat dikepalaku. moment-moment idah itu, ah, sekarang aku tahu, aku akan membayangkan itu kalau aku sedang mulai ragu lagi padamu, membayangkannya sampai aku lupa bahwa aku sedang meragu. membayangkan bahagia yang pernah ada itu.

from here

ya, aku benar-benar percaya sekarang, kita sudah berkali-kali melalui yang seperti ini, dan kita tetap akan baik-baik saja. ya, kita akan baik-baik saja.




trimakasih untuk teman yang telah mempercayakan saya sebagai tempat berbagi cerita dan inspirasi :)


 

15 jejak:

sohibul mikrat mengatakan...

KEreN Sob...
Http://ripcurl-crom.blogspot.com

septi ika lestari mengatakan...

makasih :)

Muhammad Irvan Avib Azizi mengatakan...

eciee semangartt kaka *ikastylelebay

#tak woco kabeh wong pas *eh

septi ika lestari mengatakan...

makasih khakaaak, TAPI RASAH LEBAY NGONO!!!

ecieeee, pas toh :D

SEO Tutorial mengatakan...

Thanks sob... bisa dijadikan Inspirasi ni :)

ayamSAKIT mengatakan...

ini sebenarnya tentang apa Ka. kok gwe agak gak mudeng ya, antara pertemanan, atau percintaan sih, atau percintaan di antara teman, atau cinta yg tumbuh di antara pertemanan. atau cinta atau pertemanan. ahhh gwe pusing. biarkan tulisan kecilku ini yg menjawabnya *lohhh*

catatan-r10.com mengatakan...

cinta tak pernah bahas dibahas... jgn2 jodoh ika dgn tetangga sebelah rumah 'eh

septi ika lestari mengatakan...

iya sama-sama, makasih juga udah berkunjung :)

septi ika lestari mengatakan...

ini ceritanya orang pacaran ayaaaam,
mereka sebenernya udah ngerasa nggak cocok, tapi tetep dipaksain, nyahaha :D

septi ika lestari mengatakan...

samping rumah akikah adanya kandang sapi maaaas -_-

hrengga mengatakan...

Mantap

vika etiana mengatakan...

so sweet,
keren postingannya.:)
salam kenal ya:)

Numero Wan mengatakan...

bagus bgt nih buat yg suka putus nyambung :-D

septi ika lestari mengatakan...

makasih,
salam kenal kembali :)

septi ika lestari mengatakan...

wahaha, iya ya mas :D