Jatuh Cinta Sendirian | Pasar Malam di Kepala

Jatuh Cinta Sendirian

Senin, 11 Maret 2013
        Sudah lama, aku mulai jenuh dengan situasi seperti ini. Keadaan menyebalkan yang tak pernah berubah. Kamu masih dengan dia, masih bahagia. Seseorang yang lain masih mengharapkanmu, menantimu menyudahi bahagia dengan dia lalu mengajakmu berbahagia bersamanya saja, dan aku, masih sama, masih diam mendengarkanmu bercerita tentang bahagiamu bersamanya, masih diam mendengarkan seseorang lain itu berkeluh kesah membicarakan bahagiamu yang di rasa lebih cocok kamu jalani bersamanya. Aku masih sama, masih bingung mau menceritakan urusanku pada siapa, masih kesulitan mengurus perkara jatuh cinta yang sendirian ini.

              Dalam diam menanggapi ceritamu, aku sebenarnya jengkel. Kamu bilang dia berubah, kamu bilang dia tak lagi peduli seperti diawal, kamu bilang bla...bla..bla, semua yang menyakitkan sampai membuatku ikut merasakan sesak juga. Kamu pernah merasakan seperti yang aku rasakan ini? melihat orang yang kamu suka memaksakan suatu kebahagiaan, disakiti, tapi yang kamu suka tetap saja memilih yang menyakitinya itu? Kamu, seharusnya sudahi saja semua yang kamu jalani bersamanya. Lihat, tatapanmu, tatapanmu tak lagi berbinar seperti dulu, seperti saat kamu bercerita tentangnya diawal-awal hubunganmu, dan suaramu, suaramu tak lagi menyenangkan saat didengar, entah apa yang salah, toh suaramu masih sama, atau mungkin nada ceritamu yang membuatnya berbeda? disela ceritamu, kamu sering menarik nafas panjang, berdiam beberapa waktu, lalu mengusap keningmu. Ayolah, aku tidak suka melihatnya.

          Dalam diam menanggapi cerita dari seseorang itu, seseorang yang kamu tahu persis, dia juga mengharapkanmu, berlama menyia-nyiakan waktu hanya untuk menunggumu, aku sering merasa kesal. Untuk apa aku mendengarkannya, bersimpati atas perih yang ia rasakan, menasihatinya untuk menyerah saja dan mencari bahagia lain. Untuk apa?
Pernah kamu merasakan yang ini? disaat kamu harus berpura-pura simpati terhadap orang lain, padahal kamu sendiri juga merasakan getir yang sama?
Seseorang itu tidak lebih cantik dari dia, jelas saja kamu tidak berpaling lalu memilihnya. Seseorang itu tidak lebih pintar dari dia, sementara kamu bilang kamu suka dengan gadis yang pintar, bisa diajak berdiskusi ini itu, jadi jelas saja kamu tetap memilihnya. Bodoh sekali seseorang itu, memelihara sebuah hal yang dirasa kesabaran, padahal jelas-jelas itu pelukaan.

            Dan aku, biar kuceritakan sendiri apa saja yang aku lalui. Sedikit saja, kamu tak perlu takut akan jenuh mendengarnya. Aku ini sama seperti seseorang itu, sama bodohnya, mengharapkanmu, menunggu kamu beranjak mencari bahagia yang lain. Bedanya, aku tidak seperti orang itu, tidak seberani orang itu mengungkapkan perasaannya padamu. Berarti aku lebih bodoh.
Aku sering membohongi diriku sendiri, membiarkannya menerima kenyataan bahwa melihatmu bahagiapun sudah cukup. Bahwa melihatmu bersama dia, atau bersama seseorang itu pun, aku akan tetap baik-baik saja. Bahwa aku pasti kuat mengurus jatuh cinta sendirian ini. Itu juga bahagia yang aku paksakan.

-Fiksi

4 jejak:

zie mengatakan...

cieeee tumben posting beginian, tapi yang ini sih udah baca di note

r10 mengatakan...

jatuh sendirian itu sakit loh ika :D

coba main kesini

http://myquran.org/forum/index.php/board,4.0.html

siapa tahu ika lebih sukses dariku :D

septi ika lestari mengatakan...

hahaha, kan abegeh bang, bisa ngegalau kapan aja :D

septi ika lestari mengatakan...

iya, sakit :/