Jatuh | Pasar Malam di Kepala

Jatuh

Jumat, 03 Mei 2013
         Angin malam ini cukup membuat kulitku meremang kedinginan, kulihat jam dipergelangan kiri tanganku, jarum pendeknya sudah menunjukkan angka 11, aku mulai putus asa menyusuri tiap sudut di kota ini.

Kamu, tolong berhenti membuatku khawatir...

Aku berusaha mengingat lebih dalam lagi, suatu tempat, dimana ia biasa menumpahkan segalanya.

Ya, tempat itu, kamu pasti disana.

***

           Aku memarkirkan kendaraanku tepat di depan jalan setapak itu. Hanya ada lampu remang yang menerangi jalan kecil menuju tempatnya. Aku mulai merasa takut, diwaktu seperti ini, tentu ada banyak sekali hal membahayakan disekitar. Tapi sudahlah, ini demi kamu.

        Tak lama aku berjalan, ramai suara ombak mulai terdengar. Angin yang bertiup menambah hawa dingin yang sedari tadi kutahan dengan sweater biru pemberianmu, dulu. Satu sosok lelaki berkemeja putih tampak sedang terduduk ditepian pasir putih, wajahnya nampak lusuh. Kulangkahkan kaki mendekatinya, perlahan.

"Kamu disini rupanya?" Tanyaku beberapa langkah dibelakangnya. Ia hanya menoleh, kemudian kembali dengan pandangannya yang semula. Meskipun arah matanya terlihat lurus pada laut lepas disana, entah kenapa aku melihat tatapannya kosong.

"Kamu harus pulang" Ajakku pelan, aku paham seperti apa reaksi yang akan kudapati, tapi bagaimanapun, aku tetap harus berusaha membawanya kembali.

         Lama, dia hanya terdiam dengan tatapan pilunya. Melihatnya seperti itu, aku mulai merasa ada air hangat yang merembas dimataku.

"Kamu harus melepasnya, beranjak, kemudian berbahagia kembali." Lirih kalimat itu kuucap.

"Kamu paham seperti apa rasanya jatuh, kemudian kamu justru sakit tiap mencoba bangkit?" Akhirnya, dia mengeluarkan suara meski begitu lirih, debur ombak didepan kami bahkan membuat suaranya hampir tak terdengar.

         Aku terdiam, dia juga. Hanya suara ombak yang ada. Hening, begitu lama. Entah apa yang ada dipikirannya, entah seberapa sesak dadanya

Kamu salah. Aku justru paham dengan sangat. Sebagaimana yang aku rasakan ketika dulu, kamu lebih memilih menjatuhkan hatimu padanya. Sebagaimana dulu, aku harus diam-diam menahan sesaknya, lalu bangun dari jatuh itu, sendirian.

8 jejak:

Indah P mengatakan...

ini ceritanya lagi memberikan semangat kepada orang yg lagi galau gara2 putus sama pacarnya. :)

Ario Antoko mengatakan...

Jatuh itu sakit ika, jadi jangan sampai jatuh hati

Nanti hatinya sakit krn jatuh :D

Catatan Harian Irfan mengatakan...

Ada pepatah yang mengatakan janganlah jatuh di tempat yang sama :)
Niche blog :)

shahrul mukharom mengatakan...

ooh.. move mov move on toh..

septi ika lestari mengatakan...

iya, sementara dia sendiri sebenernya ada rasa. hehe

septi ika lestari mengatakan...

kalau jatuh di orang yang tepat kayanya nggak sakit deh mas :p

septi ika lestari mengatakan...

iya, semoga tak lagi jatuh di tempat yang dulu pernah membuat luka :')

septi ika lestari mengatakan...

iyaaa kan fiksi :)