Pulang | Pasar Malam di Kepala

Pulang

Rabu, 15 Mei 2013
"Jadi, kamu mau ngomong apa? tegang gitu ih" terpaksa aku memulai pembicaraan setelah beberapa menit kami saling diam, mengaduk jus di hadapan masing-masing.
Dia mulai mengangkat wajahnya dan menatapku lamat. Aku mendengar ada tarikan nafas yang cukup dalam saat itu.

"Kamu dulu pernah bilang bahwa perasaan itu bisa berubah kapan saja, bukan?" Tanyanya, masih dengan menatapku. Tatapan hangat itu. Aku mengangguk pelan.

"Kamu juga pernah bilang agar aku mengatakan apa saja yang mengganjal di hatiku, apapun itu, bukan?" lagi, aku mengangguk. Mengiyakan pertanyaan retorisnya. Yang kali ini aku mulai bingung dengan maksud pertanyaannya. Beberapa menit ia hanya diam, tak melanjutkan bicaranya. Ah, aku mulai penasaran.

"Lantas?" aku balas menatapnya, lembut. Kemudian samar-samar telingaku mendengar tarikan nafas itu lagi, kali ini lebih dalam.

"Sekarang ini, entah mengapa perasaanku padamu tak semembahagiakan ketika di awal dulu." ia mengatakannya lirih, masih dengan tatapan hangatnya, tatapan kesukaanku. Tapi hatiku tersentak. Sakit, seperti baru saja tertusuk. Sekarang aku mulai paham arah pembicaraan ini, aku mulai bisa menebak kalimat menyakitkan apa yang akan kudengar setelah ini.

"Jadi?" Aku memberanikan diri bertanya, berharap semoga saja yang di pikiranku itu salah.

"Perasaanku telah berubah padamu, entah sejak kapan. Mungkin sejak kamu kenalkan aku pada sahabatmu itu." Ia menjawab, kali ini tatapannya tak lagi mengarah padaku, tatapannya berpindah ke jendela di samping meja kami, begitu tajam meski pandangannya kosong.

Aku diam, tak tahu harus bagaimana menanggapi. Jangankan bersuara, bernafaspun dadaku rasanya sesak sekali. Sakit, sungguh dada kiriku rasanya sakit. Air hangat mulai merembas di pelupuk mataku. Suara di sekaitar bahkan tak dapat lagi kudengar. Semuanya samar.

"Maaf" ucapnya.

"Tak apa, Aku mau pulang." Bergegas aku berdiri. Meski tubuhku lemas sekali rasanya, aku mau pulang, dadaku sakit, aku mau pulang.

"Aku tak keberatan mengantarmu pulang." ia menawarkan jasa, mungkin untuk yang terakhir. Tapi aku menggeleng. Aku tidak marah, tidak menyalahkan perasaannya yang berubah. Hanya saja, terlalu lama di dekatnya bisa membuat sakit di dadaku makin parah.

Aku berjalan terus, entah kakiku mengarah kemana, aku pasrah. Air mata yang merembas di pelupuk mata membuat pandanganku buram, semuanya samar. Aku terisak sepanjang jalan pulang.
Tiba-tiba ada cahaya yang begitu terang persis di depanku, dibarengi klakson dan jeritan orang-orang di sekitar. Aku tersentak. Kudapati tubuhku tergeletak di tepi trotoar, banyak wajah-wajah cemas berkerumun di sekitarnya.

Aku pulang, pulang yang sebenar-benarnya pulang.

-Fiksi







biar tetep kliatan rajin posting, alhasil copast tulisan lama ke blog. hahahhh :D

6 jejak:

Indah P mengatakan...

lagi galau nih... alur ceritanya bagus banget

Sarnisa Anggriani Kadir mengatakan...

lama ngk main2 kesini syg.. mw baca2 dlu ya :}

Ario Antoko mengatakan...

kalau pacaran putus ga dilindungi hukum, kalau nikah cerai dilindungi hukum

septi ika lestari mengatakan...

haha
makasih yaa :D

septi ika lestari mengatakan...

iya mbak, silahkan. hihi :D

septi ika lestari mengatakan...

haha iya ya :D