Kereta ke Empat | Pasar Malam di Kepala

Kereta ke Empat

Minggu, 25 Agustus 2013
        

        Siang yang cukup terik, jalanan ini lengang, tak banyak kereta yang berlalu lalang, ah, tentu saja ini bukan di jalan raya. Keringatku mulai mengucur, tapi entah, aku bahkan tak merasakan lelah sama sekali meski sudah berjam-jam menyusuri jalanan tanpa tujuan.
 
"maafkan aku" suaranya kembali berkelebat di kepalaku. Kali ini dada kiriku tak senyeri tiga hari lalu ketika ia mengatakannya. Aku sudah hampir mati rasa.
 
"pernikahan kita tiga hari lagi, dan kau mudah sekali membatalkan semuanya lalu bilang maaf?" suaraku meninggi. Entah marah, kecewa, atau perasaan apa yang kala itu kurasakan.
 
"ini lebih baik, sebelum kita terlanjur melangkah bersama sedang hatiku tertinggal di genggamannya." jawabnya, aku ingat betapa sesak rasanya mendengar kalimat semacam itu.

"munafik! itu karena kau telah terlanjur menghamili gadis itu, bukan?" aku sempurna menangis, rasa kecewa yang meluap-luap justru membuat suaraku melemah.
 
          Lelaki di hadapanku tercengang, ia pasti kaget, ia pasti bingung bagaimana aku bisa mengetahuinya. Rasa sakit itu kembali menusuk dada kiriku, rasa sakit seperti semalam, ketika adikku menceritakan semuanya, menceritakan hubungan gelapnya bersama calon suamiku itu.
 
          Bising suara kereta kembali terdengar, membuatku tersadar dari lamunan. Kuhitung, ini adalah kereta ke empat sejak aku menggelandang di sekitaran sini. Makin kencang, kepala gerbong terlihat makin dekat. Baiklah, semuanya memang harus berakhir, hidupku juga.

-sumber gambar ngga tau, asal nyomot di gugel :p

12 jejak:

toko penjual ace maxs mengatakan...

wah jangan merah dong, harus semangat

obat gondok mengatakan...

putus asa itu gak baik lho

Akhmad Muhamin Azzet mengatakan...

indah rajutan kalimatnya
hingga kereta ke empat
tersadar dari lamunan

Gulunganpita mengatakan...

aduh akhirnya bikin aku terus menelan ludah .

baru saja, seorang ibu tua memegang kencang tanganku dan menyeretku ke dalam sebuah warung di pinggiran dipo. aku marah sekali kepada ibu tua ini. aku berteriak sekencang-kencangnya...

"nduk, kalau mau bunuh diri ya jangan di depan warung simbok. nanti warung simbok ngga laku." pintanya. matanya berkaca-kacanya.

Einid Shandy mengatakan...

Pernikahan itu bukan GAME, tidak semudah itu orang berfikir untuk menikah apalagi untuk membatalkan. Sungguh, cerita yang paling mengerikan itu cerita tentang pernikahan. Mengerikan dari sisi merencanakan dan membatalkan.

Menjadi gila karna batal nikah itu bisa saja, apalagi waktu sudah dekat dan undangan sudah tersebar ke mana-mana begitu pula catering.

Mengapa ada yang berpikir pernikahan itu seperti kita akan jalan2 dengan kekasih untuk memenuhi janji dan membatalkan begitu saja?!

Septi Ika Lestari mengatakan...

haha iya kan cuma fiksi :))

Septi Ika Lestari mengatakan...

kip smail gitu ya :)

Septi Ika Lestari mengatakan...

hehe makasiiih ya :))

Septi Ika Lestari mengatakan...

hihihi, nah kalo dilanjutin begini gagal bunuh diri ya jadinya mbak, bisa beranjak cari bahagia yang baru ;)

Septi Ika Lestari mengatakan...

mbak mbak, sini santai dulu tak bikinin kopi~
hehe, kalo ditanya gitu aku juga nggak tau kenapa ada yang tega begitu.
ini kan fiksi, dan na'udzubillah deh, nggak mau juga kalo harus mengalami.

BlogS Of Hariyanto mengatakan...

huft,,,,hidup memang penuh dilema dan persoalan, dan semua itu merupakan indikator bahwa kita masih hidup, meski harus menanggung derita melihat sang adik bersanding dengan lelaki yang pernah menjadi calon suami,...dan kereta api bukanlah jalan terbaik untuk memecahkan masalah ....nice story dengan ending yang cukup mengejutkan.....luarbiasa....salam :-)

Septi Ika Lestari mengatakan...

iyep, setidaknya kita masih punya hal untuk di tangisi kan ya? berarti kita pernah punya hal yang berarti, bodoh banget sebenernya kalau cuma karna hal itu hilang lantas kita berpikir hidup kita harus berhenti.
makasih ya, salam :))