Surat Balasan | Pasar Malam di Kepala

Surat Balasan

Sabtu, 24 Agustus 2013
 

Lelaki itu masih disana, masih dengan buku ditangannya dan headset ditelinga. Aku tersenyum, entah kenapa memandangnya dari kejauhan saja jantungku bisa sekencang ini detaknya.

"Kamu ngapain sih?" tiba-tiba suara Ana mengagetkanku, entah sejak kapan ia disini, kuharap belum lama.

Aku menggeleng sambil tersenyum, semoga ia tak memperhatikan pipiku yang pasti sedang merah sekarang.

***

Pagi, seperti biasa, aku duduk didepan jendela berkaca, menunggu lelaki itu datang menanti bus di halte depan sana. Lihat, sosoknya mulai nampak, dengan kaos simple dan jeans khasnya, oh, juga dengan buku dan headsetnya. Aku tersenyum.

"oooh, jadi itu alasannya kamu selalu nampak sumringah tiap pagi?" Ana datang, memergokiku sedang memandangi lelaki itu. Kali ini aku tak berkutik, hanya bisa tersenyum menahan malu dihadapannya.

"Kalau kamu menyukainya, kenapa tak bilang saja?" Aku terdiam, perlahan menggeleng. Bukankah Ana tahu hal itu tak mungkin?

"Kalau kamu mau, aku bisa membantumu menyampaikannya. Kamu bisa menulis surat untuknya. Bagaimana?" Tawaran Ana kali ini membuatku berpikir, kenapa tidak?

Beberapa waktu, rencana Ana ternyata benar ide yang bagus. Aku mulai terbiasa berkirim surat untuk lelaki itu. Ia pun sama, tak keberatan membalas surat dariku. Sampai tiba disaat aku merasa itulah waktu yang tepat untuk menyampaikan intinya, bahwa aku menyukainya. Bergetar tanganku menulis surat terpenting itu, tapi aku percaya semuanya akan baik-baik saja. Ana akan menyampaikan suratku seperti biasanya, dan membawa sepucuk balasan dari lelaki itu.

***

Mataku masih tertuju pada kertas di tanganku, sepucuk surat balasan dari lelaki itu.Ya, benar kan? Ana membawakan sepucuk surat balasan dari lelaki itu. Aku senang dugaanku tepat. Hanya saja, surat yang saat ini sedang kubaca membuat dadaku terasa sesak. Ah, andai saja kulitku ini tidak bermasalah dengan sinar matahari, tentu aku akan menemuinya, bukan hanya mengaguminya dari dalam rumah. Andai aku tidak punya penyakit aneh seperti ini, mungkin lelaki itu tidak akan memilih Ana karena mengira aku gadis aneh dan pengecut.

2 jejak:

Green World Global mengatakan...

Berkunjung kakaks, salam kenal ya

Salam tasikmalaya

Septi Ika Lestari mengatakan...

wah trimakasih kunjungannya, salam kenal kembali :)