Kepada: Tuan--yang belum bernama | Pasar Malam di Kepala

Kepada: Tuan--yang belum bernama

Senin, 16 September 2013
 


              Selamat siang di musim kemarau, tuan—yang belum juga bernama. Baiklah, mari berbasa-basi sedikit. Bagaimana langit di tempatmu tinggal? Adakah hujan telah kerap menyapa tanah di bawahnya? Bagaimana kabar harimu? Menyenangkan? Ah, yang ini bukan basa-basi sepertinya, tiap waktu, aku selalu ingin menanyakannya, lewat percik-percik hujan yang basahnya aku suka, pun lewat angin yang berhembus menjatuhkan daun kering seperti sekarang ini. Padamu, tuan, ada yang tak pernah mengenal musim.

               Saat menulis ini, tanpa tahu siapa kau, tuan, aku bahkan membayangkan jangan-jangan usiamu beberapa tahun di bawahku. Sekarang, kau sedang ribut mencuci seragam biru putih yang kotor terkena tumpahan jus, kau sedikit ceroboh sementara tahu seragamnya besok masih harus dipakai lagi.
Atau kita sepantaran. Sekarang, kau sedang bingung mencari tempat les, bingung mengumpulkan buku-buku pelajaran dari semester lalu, Jadwal Ujian Nasional beberapa bulan lagi sama-sama telah menyita fokus kita. Atau bahkan, kau justru beberapa tahun lebih dewasa dariku. Di siang yang lepas adzan berkumandang ini, kau sedang bersiap menghamba pada sang pemilik hidup, sebelum mencari makan siang untuk mengganti energimu yang terkuras, entah setelah setengah hari sibuk mengawasi karyawan, sibuk mengurus data ini itu, sibuk mengelap keringat yang mengucur di dahi dan pundak, atau entahlah jenis pekerjaan apa yang tengah kau jalani.

             Aku juga membayangkan bagaimana cara kita bertemu kelak. Adakah kita sedang di sebuah toko buku, aku tengah kesulitan mengambil satu judul di rak paling atas, kau lalu datang membantuku. Sinetron sekali ya?
Kalau begitu, mungkin kita sedang hendak pergi ke suatu tempat, lalu menemui banyak kebetulan. Kita satu tujuan, di stasiun yang sama, di gerbong yang sama dan akhirnya duduk berdampingan. Mulai berkenalan, dan menghabiskan waktu dengan saling bercerita, membunuh jenuh di perjalanan.
Aku juga membayangkan dengan kecerobohanku, di suatu kedai aku berjalan tergesa hingga menubrukmu, menumpahkan satu cup kopi susu hangat pada kemejamu? Ah, kuharap Tuhan tidak menuliskan takdir seperti opsi ketiga itu.

          Maafkan, tuan, aku terlalu konyol dengan membayangkanmu terlalu dalam, membuat-buat banyak sekali skenario, padahal tentu saja skenario paling indah hanya milik Tuhan. Bahkan terbesit di kepalaku, Tuhan tertawa membaca ini. Cukup, selamat menjalani siangmu, sampai jumpa nanti di sepotong senja yang entah di langit sebelah mana kau menatapnya.

Salam, Perempuan September


-ditulis lepas Dzuhur, hari sembilan belas bulan Agustus--2013

4 jejak:

AuL Howler mengatakan...

How sweet, romantic

Septi Ika Lestari mengatakan...

hihi thank youuuu :)

Nur Aini NS mengatakan...

Manis banget :)
apalagi waktu dikenang nanti :')

Septi Ika Lestari mengatakan...

hahaha iya ya, moment mengenang pasti lebih menyenangkang daripada moment nebak-nebak :p