Malaikatku Pulang | Pasar Malam di Kepala

Malaikatku Pulang

Kamis, 10 Oktober 2013

Saat ini rasanya lelah sekali, air mataku sudah habis setelah semalaman aku tak henti menangis, entah berapa kali pula tangisku diiringi acara pingsan. Pukul setengah delapan pagi, itu berarti setengah jam lagi acara pemakaman akan dimulai. Para pelayatpun makin ramai berdatangan, wajah-wajah duka itu, ucapan-ucapan bela sungkawa, semua justru merubuhkan kuatku. Bukan tak berterima kasih, hanya saja semakin melihat dan mendengarnya semakin sakit pula dadaku. Lamat-lamat kupandangi wajah lembut malaikat kesayangan di hadapanku.

“Bangunlah, Nak…”

“Bangunlah meski dalam hidupmu, Ibu harus jadi satu-satunya yang kau benci, bangunlah…”  tangisku lagi-lagi pecah, tak henti kuusap wajah cantik milik putriku.

Sulit sekali rasanya mencoba kuat, mencoba agar jangan sampai membiarkan air mataku menjatuhi malaikat di hadapanku ini, sebab bagiku, kehilangannya sama saja membuatku kehilangan diri sendiri.

Sedang gigil yang menyergap ini, entah bagaimana bisa, perginya, berpulangnya ia pada yang sebenar-benarnya tempat berpulang, membuat kehilangan serupa kemarau paling gigil, sedang hujan menjelma retak-retak kerontang pada sebuah ruang kecil di rongga dada sebelah kiri.

Tangisku makin pecah kala mengingat kejadian semalam, kejadian sebelum Dina, malaikatku ini dijemput-Nya.
***
Malam semakin larut, entah saat ini tepatnya pukul berapa, mungkin hampir pukul dua. Berkali-kali menengok jam akan semakin membuat cemas di hatiku meningkat. Yang jelas, saat ini sudah ada tiga cangkir kopi dihadapanku. Satu cangkir sudah lama dingin, uap hangatnya mungkin tersapu angin. Sedang dua cangkir lainnya  telah kosong, hanya bersisa ampas hitam yang kata kebanyakan orang rasanya pahit. Aku tak percaya itu, sebab bagiku, diabaikan ketika usia mulai senja adalah sepahit-pahitnya rasa.

Kreeeeek….

          Tak lama, kudengar suara pintu tua berderit, pertanda ada yang membukanya. Senyumku seketika mengembang, malaikatku akhirnya pulang. Bergegas aku bangun dari kursi dan menjemputnya ke ruang depan.

“kau kemana saja? Kenapa pulang begitu larut? Kau baik-baik saja, bukan?”bagi seorang ibu, tentu pertanyaan seperti itu jadi yang pertama terbesit di kepalaku.

“ke rumah teman” jawabnya cepat sambil bergegas masuk kamar. Ia bahkan sengaja tak memalingkan pandangannya ke arahku.

“nak, ini kan hari ulang tahunmu, tak inginkah makan malam dengan Ibu sebentar saja? Tadi sore Ibu masak masakan kesukaanmu, sudah tak hangatkan juga tadi, pulangmu terlalu larut.” Ajakku perlahan.

“makan sendiri saja, aku sudah makan dengan teman-temanku”

“tapi Ibu sengaja menunggu selarut ini karena ingin makan denganmu, Dina”

itu salahmu, bukankah tak ada yang memintamu menunggu?”

“tapi Dina, sebentaaar saja, temani Ibu makan” pintaku memelas.

          Dina menatap sebal ke arahku, langkahnya mulai mendekat.

“apa yang kau bilang tadi? Kau biarkan masa kecilku habis digerogoti kesendirian dan sekarang kau mau aku menemanimu makan?” ucapnya.

“tapi nak, permintaan Ibu sederhana, jangan kau bawa-bawa masalah itu”dadaku mulai nyeri mendengar ucapan Dina tadi.

“iya, sederhana. Seperti ketika tujuh belas tahun lalu aku minta kau bacakan dongeng sebelum tidur, dan kau tak pernah mau mengabulkannya” suara Dina mulai meninggi.
“bukan tak mau, Ibu hanya..”

“sibuk! Kau sibuk bersenang-senang dengan para pria tak dikenal yang kau buat senang itu!” hentak Dina memotong bicaraku.

“nak, apa maksudmu bicara begitu?”

“ya Tuhan, sudahlah Bu, aku sudah bukan gadis berkepang dua yang dulu selalu kau bohongi. Bukankah kau tahu usiaku tepat dua puluh empat tahun sekarang? Aku paham semuanya!”  suara Dina makin meninggi, wajahnya memerah, tapi aku seperti melihat ada luka di matanya. Menyakitkan melihatnya seperti itu.

“nak, kau ini kenapa? Kenapa tabiatmu jadi sekeras ini? Mana Dina Ibu yang dulu?” sungguh dadaku mulai sesak, seperti ada air hangat yang merembas di sudut-sudut mataku.

“Hilang! Dina yang dulu sudah lama hilang sejak ia paham, wanita yang mengakui diri sebagai Ibu dengan tega membiarkan kotoran mendarah daging di tubuh putrinya. Berkali-kali menipu putri polosnya. Sekarang, ketika waktu telah mengambil alih perihal masa dan usia, ketika pria-pria itu tak lagi tertarik dengan tubuh keriputnya, ia memutuskan berhenti lalu mencari putri kecilnya yang dulu?”  kalimat-kalimat menyakitkan itu keluar begitu saja dari mulut Dina, putriku. Kornea matanya seolah memancarkan kebencian yang begitu dalam, sungguh menyakitkan menatapnya.

Ya Tuhan, aku sempurna menangis sekarang, di hadapan seseorang yang kuanggap malaikat ini. Setelah bertahun-tahun kucoba kuat menghadapi sikap ganjilnya dengan banyak tanda tanya, sekarang aku justru begitu hancur saat paham alasannya. Dina, malaikatku, ia sungguh membenciku.

Aku tahu, bahkan tanpa perkataan-perkataan menghinakan itupun wanita tuna susila sepertiku memang sudah hina, tapi tak pahamkah ia bahwa aku melakukannya semata karena aku ingin kebutuhannya tercukupi? Keinginannya terpenuhi?

Aku tahu, bahkan apa saja yang kulakukan tak akan pernah bisa menukar waktu dan masa-masa kecilnya yang penuh kesendirian itu, tapi bisakah ia memahami bahwa meski selalu gagal dalam meruntuhkan dinding bencinya, setidaknya aku telah mengusahakannya.

Nafasku begitu sesak, seperti ada nyeri yang sangat di rongga dadaku, tubuhku kaku mematung, membiarkan air mataku tumpah, membiarkan malaikatku yang kadung marah itu pergi begitu saja entah kemana, ia berlari, membawa banyak kebencian terhadapku, Ibunya sendiri.

Tepat ketika aku hendak bergegas mengejarnya, kudengar teriakan seorang gadis disertai riuh klakson. Tepat saat itu juga ada sesuatu yang jatuh berhamburan, tanganku tak sengaja menyambar gelas kopi, jantungku terhentak. Dina, sekilas senyumnya berkelebat di kepala.


*tamat*

8 jejak:

agha maruf mengatakan...

Bagu sekali ceritanya..
Bikin air mata ini tak mampu kubendung.. suwer..
Kamu pintar mengajak dan mengoyak ngoyak emosi pembaca..

Semangat menulis ya dik... kakak senang skali dengan tulisanmu,..

Rizki Pradana mengatakan...

Haduuuh Ikaa sampe berkaca-kaca aku bacanyaa :'(
baguuss banget jalan cerita dan konfliknya,,suka deh sama ceritanya :))

vina devina mengatakan...

ceritanya sangat menarik

Gulunganpita mengatakan...

bagus sekali #ambiltisu
aku suka kata-kataanya ih :(

Septi Ika Lestari mengatakan...

hihi, aku terharu loh dipuji begini.
makasih loh mas makasiiih :))

Septi Ika Lestari mengatakan...

huehehe nggak niat bikin sedih loh ini :p
makasiiih udah bacaa :D

Septi Ika Lestari mengatakan...

makasiiih :D

Septi Ika Lestari mengatakan...

makasiiih, mbapita lebih jago ah kalo urusan kata-kata :))