(fiksi) Gadis Jahat | Pasar Malam di Kepala

(fiksi) Gadis Jahat

Kamis, 12 Desember 2013
Hujan lebat di luar sana belum juga reda, ia jadi saksi atas apa yang kulakukan malam ini. Aku terduduk di sebuah kursi tua peninggalan ibuku, lengang, tak ada suara selain riuh bulir air yang jatuh mengetuk-ngetuk atap rumah serta petir yang sesekali menggelegar.

Aku menatap sosok di hadapanku, matanya tajam menyoroti sebilah pisau serta tanganku yang masih bersimbah darah.

“jangan menatapku seperti itu!” hentakku padanya, Ia hanya tersenyum, senyum yang sama sekali tidak aku senangi.

“berhentiah menatapku seolah-olah aku manusia jahat!” sekali lagi, kali ini suaraku makin meninggi.

“kau lebih dari jahat” sosok di hadapanku menjawab, suaranya begitu tenang.

“aku bukan penjahat!”

“ya, kau penjahat” sungguh, aku seperti ingin menamparnya, memukulnya, atau apapun yang bisa membuatnya berhenti bicara seperti itu.

“Aku hanya korban dari semua ini! Gadis itu yang jahat!”

“Ia gadis yang baik”

“Tidak, gadis itu tega membuat lelaki yang aku kejar bertahun-tahun justru menjatuhkan hati padanya!” suaraku bergetar, aku benci mengatakannya.

“lelaki itu memilihnya karena ia memang lebih baik darimu”

“tapi aku telah berkorban banyak hal, termasuk menghabiskan bertahun-tahun waktuku untuk menunggunya, lelaki kesukaanku. Dan gadis yang kau bilang baik itu dengan tega merebut. Aku sungguh membencinya, ia sungguh penjahat bagiku!” aku menangis, sungguh pahit mengingat kembali kenyataan itu.

“kau lah yang bodoh, kau menunggu seseorang yang bahkan tak melangkah ke arahmu”

“aku tidak bodoh! Aku mencintainya! Ia harus jadi milikku, bukan gadis itu!”

“ayolah wanita jahat yang egois, kau harus melepas, Tuhan mungkin tidak menuliskann namamu sebagai takdirnya, dan kau harus terima. Yang memang milikmu pasti jadi milikmu.”

“diam! Bicaramu itu percuma!”

“ya, percuma. Karena kau telah tega membunuhnya. Kau membunuh gadis kecintaan lelakimu itu” sungguh kalimat terakhirnya membuatku muak! Dalam situasi menyakitkan seperti ini, ia justru membuat kesabaranku habis.


Aku bergegas menghapus air hujan yang mengalir dari pelupuk mataku, lantas berdiri. Kulemparkan kursi tua yang kududuki tadi ke arah sosok di hadapanku, aku benci mendengarnya bicara. Kursi itu tepat mengenainya, membuatnya pecah berkeping. Kini cermin itu takkan bicara lagi.

rebloggy.com

3 jejak:

catatan-r10.com mengatakan...

Jodoh, rejeki, itu di tangan Tuhan. Kalau udah di tangan teman, namanya Cari Lagi..

AuL Howler mengatakan...

Loving this!
Kereeennnn!!!

Bagaimanapun yang namanya konflik batin selalu menarik untuk dijadikan fiksi.

Ocha Rhoshandha mengatakan...

wuah, keren ceritanya...