Just Like a Seasons | Pasar Malam di Kepala

Just Like a Seasons

Rabu, 15 Januari 2014

Saya selalu berharap, semoga saya tak berada di hati dan pikiran siapapun sebagai yang pandai mengecewakan. Semoga.

Saya tadi niatnya bukan mau nulis beginian sih sebenernya, tapi emang dasarnya saya lagi mellow jadi baiklah, tulisan review touring sama kirap kemarin diundur kapan-kapan aja kalau moodnya lagi baik, hehe

Akhir-akhir ini saya rasanya lelah banget, iya, mulai dari pusing yang sering menghinggapi selama 2 minggu terakhir (mungkin sebab kebiasaan insomnia yang bikin saya kadang baru bisa tidur jam 2 pagi), karena minggu ini sekolah udah mulai kegiatan belajar mengajar secara normal, karena kebanyakan baca buku juga mungkin (minggu ini saya targetin selesai 7 novel, hahah)
tapi ada satu hal lagi. Saya sedih. iya, semua rutinitas kan udah biasa dijalanin, tapi rasanya baru kali ini saya ngerasa nggak baik-baik aja.

well, saya mau cerita. Minggu ini saya dua kali dibuat sedih sama orang yang sama. Bukan siapa-siapa, tapi cukup berarti buat saya. Sedih yang saya rasain juga bukan seperti yang biasa saya ceritakan, sedih dihukum guru, sedih dateng kesiangan, sedih ngga kuat beli kuota, bukan itu.

Kalian pernah ngerasain sedih yang bikin kalian gemeteran? bikin kalian malas bercakap sama orang lain? bikin kalian diam saja seperti sedang fokus pada sesuatu padahal kosong?
Tidak seketika menangis, tapi justru tangisan yang tidak langsung dimunculkan itu membuat sesak di rongga dada kiri kalian, lantas saking sesaknya, kalian seperti limbung, bahkan memegang sesuatu yang ringanpun pegangannya seperti ingin terlepas begitu saja. Seperti itu yang saya rasakan, dan waktu itu, yang ada di pikiran saya cuma tidur! saya mau tidur, saya mau lupa dan bangun lantas baik-baik saja, jadi diri saya yang semula.

Seseorang yang membuat saya merasakan hal itu, entah kenapa berubah. Pertama, ia menunjukkan sesuatu yang membuat saya kaget luar biasa, sesuatu yang nampak membuatnya bahagia tapi tak menyenangkan bagi saya. Kedua, orang itu pergi tanpa saya tahu kenapa saya ditinggal. Ya, saya tahu manusia seperti musim, bisa kapan saja berubah. Kadang panas, kadang malah menghangatkan atau meneduhkan, atau juga bahkan dingin. Dan, seseorang itu tiba-tiba jadi dingin sama saya. Akhir-akhir ketika ngobrol memang dia  tak lagi hangat, bahkan jujur, bicara dengannya tak lagi menyenangkan. Saya nggak tahu sikap saya yang mana yang telah meniupnya menjauh, pergi. Kalau anak kecil dalam diri saya ini boleh ikut bicara, mungkin dia akan bilang : 'kenapa pergi? kenapa ikanya ngga ditemenin lagi?'

Saya paham, hati orang bisa begitu saja berubah, seperti halnya musim.Tapi yang membuat saya sedihnya berpangkat-pangkat adalah, kenapa harus orang sebaik dia yang menjauhi saya? Kenapa yang harus saya lepas justru yang saya jaga erat? seberapa fatalkan salah yang saya buat?

Bukan salah dia sih, sungguh, orang itu sangat baik, bahkan bagi saya, dia terlalu baik untuk tega membuat hati orang sakit. Maka itu saya kehilangan sekali, menyesali sekali. Sayangnya, saya nggak berani bilang apa-apa sama dia. Saya juga nggak tertarik nanya gimana-gimana. Bagi saya,
terlepas dari seberapa senang dan sakitnya hati, tak ada yang bisa menghalangi orang lain untuk tetap tinggal atau meninggalkan.

Tak apa, saya punya bagian hati yang cukup kuat untuk mengatakan pada bagian lainnya yang rapuh bahwa saya baik-baik saja. Mau seperti apa sikap dia kedepannya, tak apa. Kalaupun dia kembali baik, tentu saya akan senang sekali, menjaganya lebih baik dari sebelumnya agar tak pergi lagi. Pun kalau langkahnya memang tak pernah lagi tergerak menuju saya, setidaknya orang baik itu meninggalkan banyak sekali hal-hal baik untuk tetap terus saya ingat. 

8 jejak:

Triando mengatakan...

kenapa pasrah sekali, Ika?
Kenapa gak mencoba bertanya padanya, sekali saja. Daripada kamu merasa hampa dan limbung dalam bingung, tanpa tau sebab dia pergi?

BTW, semoga target baca novelnya tercapai :)

san san mengatakan...

artikelnya di atas sangat menarik dan telah banyak memberikan informasi yang sangat luarbiasa yang saya dapat. Terimakasih

syahri ramadhan mengatakan...

artikelnya baguss :D (padahal belum baca >_<)

Annisa Fitri mengatakan...

ika tsurhat? :"
aku pun pernah kok ka, sabar yaaa, jangan galau muluk ah, sini aku peluk {}

Septi Ika Lestari mengatakan...

hihi aamiin. ayo kamu rajin baca juga yaa :D

Septi Ika Lestari mengatakan...

laaah info apaa wong saya curhat -__-

Septi Ika Lestari mengatakan...

halah syahri ki :/

Septi Ika Lestari mengatakan...

aaaak nisaaa {}