Dialog Cermin | Pasar Malam di Kepala

Dialog Cermin

Sabtu, 08 Februari 2014
http://www.flickr.com/people/laurazalenga/

Ka, kamu memang bukan meja, kamu bukan bantal, memang. Kamu bisa saja marah, tidak terus-terusan membohongi hatimu senndiri, menjejalinya dengan kalimat "tak apa, hati. mereka mungkin bercanda. tak apa" lantas memaksa hatimu menelan kembali amarah yang belum sempat keluar itu.

Hatimu itu masih berfungsi dengan baik, Ka. Tentu masih bisa kalau kamu ingin membenci hal-hal yang tak kamu senangi. Kalimat-kalimat jahat yang kerap kamu dengar, ejekkan, perbuatan buruk, perasaan disia-siakan, perasaan tak dianggap, dibohongi, kamu boleh membenci semua itu. Membenci orang-orang yang tega membuatmu sakit.

Pun, atas semua yang menyakitkan itu, Ka, atas semua rasa kecewa yang kau terima, kamu boleh tak memaafkan mereka. Boleh.

Sayangnya, itu berarti kamu harus mengingkari janji terhadap dirimu sendiri. Bukankah kamu membenci rasa sendirian? Bukankah kamu tak ingin jadi yang pandai marah? Pandai membenci dan mengecewakan? Maka muntahkan lagi saja semua janji itu, Ka. Lantas jadilah Ika yang pemarah, yang menyebalkan dan membuat semua yang di dekatmu tak nyaman. Lantas bersiaplah dihantui rasa sendirian itu.

Ka, kamu hafal nasehat itu, bukan? bahwa bagi hati yang seluas samudra, semua keburukan yang kamu terima bahkan tak ubahnya setetes tinta. Tak akan berarti apa-apa.
Maka, setelah susah payah mengusahakannya, meluaskan hati, kamu ingin menyerah begitu saja dan membiarkan hatimu jadi tempat yang sempit?

Ka, tetaplah mengupayakannya, meluaskan hati. Rasa sakit itu, kekecewaan itu, biarkan diurus Tuhan. Luaskan hatimu, agar mampu menampung sayangnya Tuhan yang maha besar itu. Agar hatimu muat menampung banyak stok maaf, penerimaan, syukur, dan segala yang baik-baik. Agar hatimu muat dijatuhi sayang oleh banyak orang. Bukankah kamu sendiri paham, bahwa menyayangimu itu rumit sekali, maka hebat sekali orang-orang yang tetap bertahan sayang padamu. Jaga mereka, Ka.

Tak apa disakiti, dikecewakan, biarkan semua itu membuatmu paham, bahwa kelak, jangan melakukan hal yang sama pada mereka.
Jadi, udahan lah Ka marah-marahnya. Udahan sok taunya. Kemarin kamu bikin Kiwil marah, tadi kamu usek-usek Lisma, jambak-jambak Mukhri, bentak Syahri. Kamu mau nggak ditemenin?

4 jejak:

TS Frima (Rian) mengatakan...

"Ayo Ka, minta maaf dan baikan sama mereka ya :)"
Kata cerminnya ^^

BTW, ada beberapa tulisan saya yang juga melibatkan cermin. feel free to drop by ya :)

Ninuk Endah S.L mengatakan...

suka banget sama nasehat atau mungkin prinsipmu yang ini "bahwa bagi hati yang seluas samudra, semua keburukan yang kamu terima bahkan tak ubahnya setetes tinta. Tak akan berarti apa-apa"
Sendiri itu ga enak loh Ka. sendal aja sepasang masa kamu enggak :p (gagal fokus) hehe

Septi Ika Lestari mengatakan...

hihi iya sudah kok :)

nah, memang selalu menyenangkan juga bicara sama diri sendiri itu, kita bebas jadi siapapun :))

Septi Ika Lestari mengatakan...

itu nasihat punya om Tere mbaak hehe aku juga suka banget :D
nah makanya jangan sampai kalah sama sendal ah :p