Buku Harian Ara | Pasar Malam di Kepala

Buku Harian Ara

Sabtu, 22 Maret 2014
Pagi, entah yang keberapa sejak wajah gadis itu selalu jadi yang pertama kuingat di tiap bangunku. Gadis berkacamata kesukaanku. Tak ada yang istimewa pagi ini, kamarku masih sama, posisi bantal yang semalam kutaruh di kepala sekarang pindah sampai kaki. Seragam abu-abu putih tergantung rapi di belakang pintu, dan, ibu. Gurat-gurat dinding kamarku bahkan hafal betul teriakannya tiap membangunkanku. Yang berbeda hanya satu, jam dinding yang menempel di tembok kamarku. Berkali-kali aku mengerjap, memastikan tak salah membaca angkanya. Sial! Aku kesiangan (lagi).

“kamu nggak sarapan dulu?” ibu bertanya melihatku tergesa keluar dari kamar. Aku sudah rapi sekarang, hanya saja karena sepatuku belum kering, jadilah kupakai sepatu kakakku. Tinggal menyisir rambut. Itu bisa kulakukan nanti-nanti, rambut lelaki selalu cukup disisir dengan jari, bukan?

“enggak, takut terlambat, Bu” jawabku cepat sambil mencium tangan ibu.

Aku bergegas, berusaha mengemudi dan sampai di sekolah secepat yang kubisa, sayangnya, meski tak semacet ibu kota, pagi-pagi seperti ini jalanan di kotaku lumayan semrawut. Ini membuatku sedikit kesulitan.

Hanya beberapa menit perjalananku selesai, aku sampai di sebuah gedung dengan tembok bercat kekuningan. Tidak bertingkat tinggi, tapi cukup membuatmu berkeringat kalau kau menggunakan kedua kakimu berkeliling mengitarinya. Gedung yang orang bilang, semua datang kesini untuk menuntut ilmu. Gedung sekolahku. Syukurlah, aku beruntung kali ini gerbangnya belum ditutup. Nampaknya alarm bel di sekolahku sedang tidak beres. Gumamku.

Aku berjalan menuju ruang kelas sembari melamun. Apa tadi yang kubilang? Datang kesini untuk menuntut ilmu? Dari sekian alasanku datang ke sekolah, sebenarnya itu entah berada di urutan keberapa. Yang utama jelas, gadis berkacamata kesukaanku. Tiara.

Pagi ini, seperti biasa, ia selalu datang lebih awal dariku. Duduk di bangku barisan tengah, urutan kedua. Posisi favoritnya. Rambutnya diikat rapi, dia tetap menawan meski sebenarnya, aku lebih senang melihat rambut panjangnya dibiarkan tergerai saja.

Sebagai anak yang selalu datang paling siang, aku tak pernah punya posisi duduk yang pasti. Yang mana yang sisa saja kutempati. Tapi satu hal, aku selalu senang duduk di belakang. Orang berpikiran alasanku tentu karena di belakang jauh dari pandangan guru, mudah menyontek, dan entahlah apa. Tapi tidak sebenarnya, aku senang duduk di belakang karena dengan begitu, aku lebih leluasa memandangi gadis berkacamataku yang duduk di depan. Itu saja.

“woy, santai bener jam segini baru dateng. Belajar belum lo?” sapa Deni, teman sebangkuku pagi ini.

“belajar apa?”

“ya ampun, nyesel gue sebangku sama lo. Pagi ini kita ulangan matika.” Deni menjelaskan. Dia pikir aku tak menyesal duduk dengan anak yang peringkatnya selalu lima besar dari belakang ini?

“ulangan lagi? Lupa gue” sahutku bertanya, retoris sebenarnya.

aduh Lan lo sekolah yang diinget apa sih? Masih mending gue nggak belajar tapi kan inget!”
Aku hanya tertawa, dalam hati menjawab tanya Deni. Tentu saja gadis berkacamataku.

***

Pukul setengah lima sore, bel pertanda pulang sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, ada pelajaran tambahan. Aku sengaja tidak langsung pulang, duduk-duduk di depan kelas sembari menunggu parkiran sepi, malas sekali kalau harus rusuh berebut mengeluarkan kendaraan.

Sampai suatu ketika aku menghirup aroma yang tak asing, ya, aku sungguh mengenali harum ini. Ini parfum milik gadis berkacamataku. Reflek, kepalaku celingukkan mencarinya, sampai mataku menangkap sosok itu, sosok yang kuhafal betul detailnya dari ujung kaki sampai kepala. Gadis itu mendekat, aku mulai berkeringat.

Alan belum pulang?” tanyanya menyapa, rautnya sungguh ramah meski aku melihat gurat bingung diwajahnya.

“belum, parkiran masih rame” jawabku

“kamu sendiri ngapain balik lagi?” sekarang gantian aku yang bertanya.

“ada yang ketinggalan” gadis itu menjawab, senyumnya mengembang begitu cantik, kakinya bergegas memasuki ruang kelas.  Ah, aku suka sekali senyum tadi.

            Tak lama gadis itu keluar, raut kebingungannya makin jelas terlihat. Ia bahkan mengeluarkan seluruh isi tas nya.

“barangnya nggak ketemu ya? Kamu cari apa sih?” tanyaku ikut khawatir.

“buku, buku harian aku. Bahaya kalau sampai ada yang nemu”

“tadi kamu taruh di mana?”

“terakhir di laci, dan kayaknya aku lupa masukkin ke tas. Duh ceroboh banget!”

            Ara, begitu ia dipanggil, raut bingungnya kini berganti kesedihan, aku bergegas membantunya mencari, satu persatu kutengok laci meja, tak ada. Saat ini Ara hampir menangis, sekarang justru aku yang bingung harus bagaimana.

“besok pas anak-anak pada dateng kita tanya, barangkali ada yang nemuin. Sekarang pulang dulu, Ra, udah sore”  ucapku

Ara terdiam sejenak, matanya mengerjap-ngerjap menimbang jawaban. Lucu sekali melihatnya melakukan itu.

“iya deh” Ara akhirnya memutuskan, nada suaranya seperti terpaksa. Meskipun wajah sendunya tetap menyenangkan di lihat, aku sungguh benci melihatnya seperti ini.

***

            Sudah larut, mataku belum mau terpejam juga. Entahlah, aku tak sabar menunggu besok pagi. Kubaca lagi suatu halaman di buku harian milik Ara. Ya, buku harian Ara, buku itu ada padaku. Tadi Ara yang meninggalkannya begitu saja di laci, diam-diam kuambil. Aku hanya penasaran, setelah selesai membaca besok pastiku kembalikan, jadi aku bukan mencurinya.

            Bahagia sekali rasanya mebaca salah satu halaman di buku harian ini, Ara menuliskan namaku di sana.

5 oktober 2013

Hari ini Alan datang hampir terlambat (lagi). Anak itu, seperti biasa, rambutnya semacam lupa disisir. Ia juga ganti sepatu hari ini, bukan yang biasanya dipakai. Seragamnya sedikit tidak rapi, ia bahkan lupa mengenakan sabuk, tapi tak apa, aku tetap suka padanya :)
            Ya Tuhan, gadis berkacamataku menyukaiku? Ah, senang sekali rasanya ketika yang kita sukai diam-diam ternyata juga menyukai kita.

*tamat*





Bantul, 6 Oktober 2013

0 jejak: