(Fiksi) Membujuk Tuhan | Pasar Malam di Kepala

(Fiksi) Membujuk Tuhan

Selasa, 13 Mei 2014
Ayo kita bepergian ke tempat yang jauh. Ke tempat yang sepanjang jalannya berjajar rapi pohon-pohon tua nan rindang. Yang langitnya dihiasi awan-awan gendut dan burung-burung kecil. Kita catat hal-hal menyenangkan yang kita lalui, siapa saja yang kita temui, kita catat jenis-jenis kehidupan yang kita tak pernah kenal sebelumnya. Lantas kita baca di hari tua nanti, atau kalau kau sudah rabun duluan, biar aku yang menceritakan ulang untukmu.


          Bagaimana kalau kamu ajak aku mendaki? Aku mau lihat awan lebih dekat, mau lihat banyak hal dari atas, mau lihat edelweis. Aku tak akan menyuruhmu memetiknya untukku. Bunga keabadian itu harus abadi di tempatnya tumbuh, bukan dipetik dan dipajang sebagai hiasan. Aku mau tahu apa saja yang akan alam pesankan bagi kita.


         Atau kamu ikut aku ke pasar tradisional. Memilah sayur mayur dan buah, berbincang dengan penjualnya yang ramah.Di sanapun ada banyak jajan pasar kesukaanku, aku yakin kamu pasti akan suka.

      Atau kita di rumah saja? menghabiskan waktu menata buku-buku. Kita akan membuat satu ruang perpustakaan, kita juga yang akan mengecat dindingnya. Mmm...bagaimana kalau biru muda? Nanti bingkai-bingkai jendelanya kita cat warna putih saja. Perpaduan yang teduh, bukan?

Atau.....biar aku bujuk Tuhan dulu. Permintaan itu aku simpan, barangkali nanti-nanti do'aku di-iya-in sama Tuhan. Hey, kamu..... sebahagia apa dengannya?

4 jejak:

Mas Gemboool mengatakan...

Bagus nih narasinya...
Belajar sama siapa?

nur mengatakan...

yess, bagus dan inspiratif :)

Septi Ika Lestari mengatakan...

trimakasih :)
belajar sama blogger lain hehe

Septi Ika Lestari mengatakan...

eh? inspiratif?
hehe makasih ya :)