(Fiksi) Temu Berikutnya | Pasar Malam di Kepala

(Fiksi) Temu Berikutnya

Selasa, 10 Juni 2014
9images.com
         

          Sore yang tenang, satu dua rintik gerimis tampias membasahi kaca bus yang kutumpangi. Alunan lagu-lagu Payung Teduh reflek membuatku lirih bernyanyi, ditengah deru mesin yang menyala sejak beberapa menit lalu, nampaknya sang sopir sengaja memanaskan mesinnya sebelum mengantar kami beranjak pulang. Pulang yang akan menarikku untuk selalu kembali.

"Suka Payung Teduh juga?" Tanya lelaki yang tiba-tiba ada di hadapanku, aku tidak tahu sejak kapan ia memperhatikan.
"eh, lumayan"  jawabku sekenanya, canggung.
"sama dong" lelaki itu tersenyum, raut wajahnya cukup ramah untuk orang yang baru kenal, bukan mencurigakan, rautnya justru menyenangkan.
"Oh ya?apa yang bikin kamu suka?"
"Ya...karena enak didenger aja, teduh. Kalau kamu? " 
"mm....entah, they just stole my heart with their lyrics"
"hahaha lucu nih 'Mungkin tentang ikan paus dilaut...."
"Atau mungkin tentang bunga padi disawah....hahaha" aku--entah bagaimana bisa reflek menyambung nyanyiannya. Lelaki ini ternyata cukup menyenangkan.

Tanpa permisi, lelaki ini akhirnya sempurna duduk di kursi kosong sampingku. Aduh, bagaimana ini?

"maaf, kursi ini sudah ada yang menempati. Orangnya sedang turun cari minum" terpaksa, repot aku menyusun kalimat sehalus mungkin agar tidak terkesan mengusir.
"oh, maaf. Kukira kau pergi sendiri"
"Tak apa" Ia lantas bergegas mencari kursi kosong di deretan belakang
"Hey, kamu nggak mau minta nomor ponsel atau alamatku?"
"Eh? untuk apa?"
"Barangkali kamu jatuh hati sama saya, lantas datang lagi ke Jogja ketika sudah tak berkekasih"  laki-laki itu tertawa, pergi begitu saja. Ah, aku tahu ia bercanda.


                                                                              ***
            Ini kedatanganku ke Jogja yang ketiga kali, tepat di tanggal yang sama seperti tiga tahun lalu, di terminal yang sama, juga sengaja kupilih bus yang sama. Bedanya, belakangan aku datang sendiri, aku sudah tak berkekasih. Sayang, aku tak juga berhasil menemuinya. Lelaki itu, ah, nampaknya memang tak kan ada temu berikutnya.

"Kucari kamu dalam setiap jejak
Seperti aku yang menunggu kabar dari matahari "
 

                                                                          *tamat*

4 jejak:

Ichsan Ramadhani mengatakan...

aku, lelaki yang kamu tunggu itu telah pergi menemukan hati yang baru.
hati yang lebih dari sekedar teduhnya payung teduh.

dari aku, yang sudah lelah menunggu payungmu untuk terbuka dan kembali mekar.

Muhamad iyan mengatakan...

tulisannya bagus, kebetulan aku juga suka semua lagu payung teduh. pun dengan "kucari kamu", ini antara fiksi dan nyata ya :))

Galih Hidayatullah mengatakan...

Waaaaaaaa...
Kerasa banget perkembangan penulisannya.
Great Ika

Anonim mengatakan...

Very nice write-up. I definitely love this site.

Continue the good work!

Check out my web blog: sony online entertainment