Menjemput Ibu | Pasar Malam di Kepala

Menjemput Ibu

Sabtu, 28 Juni 2014

"Ayah, ini sudah hampir petang, kita pulang, ya?" ini entah yang keberapa kalinya aku mengajak ayah pulang, tapi nampaknya ia belum juga mau beranjak.

"Sebentar lagi, ya. Lagipula malah asyik to nduk kalau kita di sini sampai malam" benar, ayah belum mau pulang.
 Padahal sudah sejak pagi aku mengantar ayah ke stasiun untuk menjemput ibu, tapi ibu tak juga nampak keluar dari gerbong kereta manapun yang kami perhatikan seharian ini.

"Nduk, dulu, waktu ayah sama ibumu masih muda, ibumu selalu senang ayah ajak jalan kaki malam-malam. Ibumu selalu senang melihat kelap-kelip lampu kota, indah katanya." Ayah memulai ceritanya.Seperti biasa, rautnya selalu bahagia ketika mengenang masa indahnya bersama ibu.
Sebenarnya ayah memang sudah sering sekali menceritakan kisah masa mudanya bersama ibu, aku sampai hafal, tapi biarlah. Mendengarkan suara tuanya bercerita bagiku tetap menyenangkan meski ceritanya itu-itu saja.

“Iya ayah, aku juga senang lihat lampu-lampu di malam hari. Indah” Jawabku menanggapi cerita ayah—yang juga kulontarkan tiap ayah bercerita.

“Kamu memang persis ibumu. Senyumnya, baiknya, seleranya juga. Tapi kalau dulu, lampu-lampu kota belum semeriah sekarang. Nanti setelah ibumu sampai, kita ajak ibumu jalan-jalan ya, kita ajak ibumu lihat lampu-lampu sepanjang jalanan Jogja yang sekarang makin meriah ini ya, nduk” Ayah nampak sumringah melontarkan rencananya, aku mengangguk, tersenyum semanis mungkin. Senyum yang kata ayah, persis milik ibu.

       Ini tahun kesebelas sejak ibu pamit hendak ke Ibu Kota. Kala itu, usiaku 12 tahun. Ibu pergi untuk membantu ayah mencari biaya sekolahku. Aku sedih saat bersama ayah mengantar ibu ke stasiun, tapi seketika ibu memelukku yang menangis sesenggukan. Dalam pelukannya, aku mendengar ibu berjanji bahwa pulang nanti, ibu akan membawakan untukku mainan-mainan bagus dari kota. Kesedihanku sedikit terobati membayangkan boneka barbie sepasang dengan sang pangeran, atau sepatu yang bisa menyala kelap-kelip saat diinjak. Ah, ibu.
Usiaku menginjak 23 tahun sekarang, dan ibu belum juga pulang.

Ayah, pulang, ya. Kita jemput ibu besok lagi” ajakku

“Tapi nduk, kalau nanti ibu sampai dan kita sudah pulang duluan, ibumu pasti sedih, dikiranya kita tidak menjemput”

“ndak yah, kalau ibu sudah mau sampai pasti ibu kasih kabar, nanti kita jemput ibu lagi”
aku mulai menggamit lengan ayah, ini sudah hampir petang, ayah harus pulang.

“Sebentar to, lima menit lagi, ya?” baiklah, aku mengangguk.
       Memberi waktu ayah menunggu ibu beberapa menit lagi. Memberi ayah waktu—untuk barangkali bisa mengingat, bahwa sepuluh tahun lalu, tepat setahun setelah ibu merantau ke kota, ibu telah pulang menjenguk kami lalu pergi lagi dan tak akan pernah pulang kemari. Ya, ibu pulang dan menepati janjinya. Ia pulang membawakanku satu box mainan-mainan mahal, mainan yang selama ini aku lihat dimiliki anak-anak kaya di sinetron-sinetron yang kutonton. Ibu juga pulang membawa kejutan untuk ayah. Ia membawa lelaki barunya, juga surat cerai. Ibu telah menemukan laki-laki yang bisa membuatnya lebih bahagia. Laki-laki yang bisa mengajaknya menikmati kerlip lampu-lampu kota dengan mobil mewah, bukan dengan jalan kaki seperti yang ia lakukan bersama ayah.

      Aku membuang semua mainan-mainan pemberian ibu. Aku tak butuh. Nyatanya ibupun membuangku dan ayah. Membuang keluarganya. Ibu pergi, entah kemana bersama lelaki barunya. Dan ayah, ayah sangat terpukul. Bertahun-tahun ayah tak juga bisa merelakan ibu.
Setiap tahun, tepat di hari ibu pulang bersama lelakinya kala itu, ayah pergi ke stasiun, menjemput ibu—katanya.

“Ayah, sudah lima menit, kita harus pulang, yah.” Kali ini aku sedikit memaksa dengan menarik lengan ayah, kata dokter, ayah tak boleh telat minum obat. Bukan agar ingatannya pulih, setidaknya, agar penyakit ayah tak bertambah parah.

       Ayah akhirnya menurut, kamipun beranjak, kugandeng lengan ayah sembari menyembunyikan air mata yang mulai merembas di sudut mataku. Ibu tak akan pernah pulang, yah. Seindah apapun kenangan bersamanya di ingatan ayah, mantan Istrimu tak akan pernah pulang.



Fiksi ini diikut sertakan dalam Give Away dari mas Aditya Regas bertema "mantan".

15 jejak:

TS Frima (Rian) mengatakan...

Bagus :)
Good luck dengan giveaway nya (y)

laili umdatul khoirurosida mengatakan...

aaak temanyaaa
suksees yaaaa

Nur Aini NS mengatakan...

ayo, ika, kita pulang. besok kita beli sepatu baru, deh :D eh :P mhehehe
semoga sukses, ka, GAnya ^^

Ashima KY mengatakan...

Masyaallah biarpun ini fiksi tapi kenapa ya selalu ada pihak yang dikecewakan dengan kenyataan pahit.

Muhamad iyan mengatakan...

tulisannya bagus, walau fiksi tapi berasa dihati.

Rad Rambo mengatakan...

sedih ya.. tapi mau gimana lagi :(
ga tega sama bapanya
semoga kita menang :D *ceritanya saingan buat menangin GAnya adit*

Septi Ika Lestari mengatakan...

trimakasih, aamiin aamiin :)

Septi Ika Lestari mengatakan...

iya, temanya....tapi aku sih ngga punya mantan jadi biasa aja :P
iya aamiin trimakasih ya :)

Septi Ika Lestari mengatakan...

wahaha asik ini nilam janjiin mau beliin aku sepatu baru beneran kan ya :P
allahuma aamiin trimakasih nilam :)

Septi Ika Lestari mengatakan...

haha iya mba ngga tau kenapa aku kurang greget kalo bikin yang endingnya bahagia bahagia

Septi Ika Lestari mengatakan...

trimakasih, puisinya mas iyan juga bagus bagus :)

Septi Ika Lestari mengatakan...

hihi iya, bapaknya sampe gitu :((
aamiin, ayo sukses juga ya, kamu :D

dunia kecil indi mengatakan...

Menyentuh sekali :)

Septi Ika Lestari mengatakan...

ya ampun ada mbak indiiii, hihi trimakasih trimakasih mbaa :))

Anonim mengatakan...

I lkved as much as you will receive carred out right
here. The sketch is tasteful, your authored material stylish.
nonetheless, you command get bought an impatience over that you
wish be delivering the following. unwell unquestionably come further formerly again since exxactly the same nearly very often inside case you shield this
hike.

Also visit my site - Jungle Heat Diamond Hack